Hari ini saya mendapatkan pelajaran baru tentang telur yang pecah. Unik, ya? Ilmu telur ini sebenarnya pernah Saya diskusikan dengan beberapa kawan Saya, dan tanpa sadar, justru di hari ini Saya yang mendapatkan ‘pelajarannya’.

Telur yang pecah tidak akan bisa kembali utuh. Seperti halnya ucapan yang menyakiti – sudah terujar – tidak pernah bisa diulang kembali.

Sore tadi, melalui BBM saya menegur seorang rekan sekantor saya. Teguran tersebut lantaran menurut saya yang bersangkutan telah berulang kali melontarkan kata – kata yang bisa down grade kawan lainnya, termasuk Saya. Terlebih, hal ini adalah pengulangan dari yang bersangkutan, yang menurut penilaian kami, ucapan  dan tindakannya sangat bisa menimbulkan dampak perpecahan antar sesama karyawan terutama di saat kondisi kantor tempat saya bekerja di ujung tanduk.

Setelah mempertimbangkan mayoritas aspek dari sisi manfaat dan mudharat, yakni alasan team work yang harusnya saling terbuka, serta memberikan support satu dan lainnya, serta pergunjingan dan rasa sakit hati yang ditimbulkannya bisa membahayakan suasana kerja. Akhirnya, saya memutuskan untuk memberi masukan kepada rekan saya tersebut.

A believer is a mirror to another. If he sees any fault he informs him (Abu Daud, Tirmidzi)

Singkatnya, saya memberi masukan ke kawan saya tersebut untuk dapat lebih bijaksana dalam memilih kata. Tentu, saya permisi dan meminta maaf terlebih dahulu sebelum memberikan masukan tersebut. Saya jelaskan kepadanya, bahwa sudah beberapa kali ia membuat saya tidak nyaman dengan ucapannya yang menjurus ke ‘prasangka’, ‘tuduhan’ dan ‘tekanan’ dan hal tersebut juga dialami oleh rekan saya yang lainnya, yang kebetulan mereka sering shared ke saya. Saya tidak menyebutkan siapa saja orang – orang yang sakit hati tersebut. Namun, saya sampaikan ke rekan saya, bahwa pilihan katanya yang kurang baik itu bisa menyebabkan pergunjingan dan perpecahan yang pastinya tidak akan nyaman untuk kami semua.

Tapi, tak saya sangka bahwa reaksi yang bersangkutan ternyata bertolak belakang dari yang saya bayangkan. Ia marah, dan tidak terima dengan masukan saya tersebut. Ia beralasan bahwa ia melakukan semua itu karena kondisi, reaksi serangan balik atas sikap lawan bicaranya, dan juga karena apa yang kami lakukan membuat ia dalam posisi yang tidak nyaman sehingga ia perlu melontarkan demikian. Saya cukup sedih membaca reaksinya, kaget !. Ia juga menyampaikan bahwa saya pun harus intropeksi diri saya, karena saya sering juga membuat orang lain sakit hati dengan ucapan saya. Ia juga menegur saya atas beberapa sikap saya yang menurutnya tidak baik.

Saya sempat terdiam, dan kemudian menjelaskan kepadanya bahwa kebetulan saya menyadari atas beberapa kalimat saya yang bisa memberi rasa kurang nyaman di dirinya, untuk hal tersebutpun saya sudah meminta maaf ke dirinya dan saat itu, ia menyampaikan maafnya, termasuk sekarang saya juga minta maaf kepadanya atas masukan saya yang tidak berkenan untuknya. Berterima kasih juga kepadanya atas masukannya tersebut.

Ia tetap kesal kepada saya, kalimat lainnya yang ia ucapkan kemudian menambah rasa sedih saya. Ternyata, masukan saya tersebut telah memecahkan telurnya – perasaannya. Ia bahkan semacam tidak ingin lagi berteman dengan saya. Saya terdiam cukup lama. Ternyata, meski saya berupaya selembut mungkin memberi tahu dirinya, telurnya pun telah pecah. Seperti telur yang telah pecah tidak akan bisa kembali utuh. Tapi, manfaat dari telur yang pecah tersebut, bergantung dari reaksi dan tindakan kita kemudian, kan. Karena toh, telur yang dibiarkan saja, lama kelamaan bisa saja menjadi busuk. Tapi, telur yang di maanfaatkan dengan baik, justru bisa mendatangkan hal – hal yang menyenangkan.

Sebagian dari hati saya berkata, ‘tapi maksudnya kan baik’ – ‘bukankah kalau ada hal yang salah harus kita sampaikan’,  – ‘yang saya katakan padanya hanyalah untuk memilih kata yang lebih baik, bukan mengajaknya untuk saling menyerang’. Namun, sebagian lainnya mengatakan bahwa apapun itu saya telah menyinggungnya, saya mungkin bermaksud baik, menggunakan kalimat yang cukup sopan, tapi saya melupakan satu hal lainnya, melihat kondisi lawan bicara. Saya terlupa bahwa sebaiknya saya bicara padanya di saat yang tepat, menanyakan terlebih dahulu padanya apakah ia baik – baik saja, apakah saat itu ia memperkenankan saya untuk memberi masukan.

“Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam” Artinya, “Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula.”

Ya! Saya lupa untuk mempertimbangkan hal tersebut.  saya pernah membaca bahwa seseorang yang sedang emosional sebaiknya tidak diberi nasehat, sampai dengan ‘seorang penyanyi tentu akan sangat tersinggung bila diminta untuk menghentikan nyanyiannya sebelum berakhir’. Saya benar – benar tidak membaca situasi saat itu. Sejak hari ini, saya harus benar – benar menjaga lisan saya dan melihat situasi serta dengan siapa saya berbicara.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari Muslim)

SFA, Cimanggis, 01.11.12

2 thoughts on “Telur Yang Pecah

  1. very much like this, indeed!
    Thanx Fa untuk sharing yg bermanfaat, smoga yg membaca bisa ambil hikmah dan dijadikan inspirasi utk berbuat lebih baik ke sesama, hablum minannas….

    *kiss_kiss!*

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.